Tips Memilih Konsultan Pertama Kalinya

tips-memilih-konsultan-pertama-kali

A consultant is someone who borrows your watch to tell you the time, then keeps your watch and charges you.

Mengapa kita membutuhkan konsultan?

Untuk meningkatkan kinerja perusahaan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Bisa dilakukan dengan memperbaiki proses, menstandarkan cara kerja, memakai teknologi terbaru, menerapkan sistem manajemen mutu dan lain sebagainya. Dalam pelaksanaaannya, agar berjalan dengan efektif dan efisien, sering pihak perusahaan memakai jasa dari pihak luar yang biasa kita disebut sebagai konsultan. Namun kalau tidak mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai kriteria konsultan yang mau kita pakai jasanya, bisa – bisa kita akan memperkerjakan orang yang tidak tepat. Sudah bayar mereka mahal – mahal namun kita tidak mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan. Jadi pada kesempatan kali kami akan berbagi pengalaman tips memilih konsultan untuk pertama kalinya. Sehingga jika suatu pagi atasan menelpon minta dicarikan konsultan, kita sudah mempunyai bekal yang cukup.

Konsultan yang bagaimana harus dipilih?

Beberapa kriteria yang perlu diperhatikan untuk memilih konsultan untuk pertama kalinya, antara lain :
1. Praktisi bukan pakar
Saran pertama kami, carilah konsultan yang merupakan praktisi dan bukan pakar. Carilah konsultan yang pernah bekerja sebagai karyawan di perusahaan – perusahaan besar atau multi national company yang dikenal memiliki kinerja bagus. Kalau kita mencari konsultan supply chain management, carilah orang yang pernah menjadi supply chain management manager, kalau kita mencari konsultan kualitas carilah orang pernah berkecimpung di quality control/ quality assurance atau menjadi quality management representative yang berhasil mengimplementasikan sistem manajemen mutu dan seterusnya. Biasanya banyak para expert (ahli) yang setelah pensiun membuka jasa konsultasi dengan berbagi pengalaman ketika masih bekerja.

Saran kami jangan mengambil konsultan murni dari dunia pendidikan atau akademisi. Walau pun tidak semuanya, kalau berasal dari dunia ini biasanya hanya bersifat teori saja. Ada hal – hal yang hanya bisa dilihat oleh seseorang yang pernah berada di dalamnya, dibandingkan dengan apa yang diketahui di dalam buku. Akan terlihat perbedaannya kalau sudah menemui kasus di lapangan.

Kami punya pengalaman ketika mau memperkerjakan konsultan yang merupakan dosen dari perguruan tinggi terkenal di Indonesia. Untuk penawaran dia yang cukup mahal, menurut kami, dia “cukup” mengirimkan salah satu mahasiswa tingkat akhirnya untuk mendiagnosa masalah kami. Singkat cerita akhirnya kami membatalkan rencana untuk memakai jasanya.

Pengalaman lainnya adalah ada seorang lulusan kampus bergengsi yang membuka jasa konsultasi bagaimana membuka rumah makan. Padahal dia sendiri tidak punya rumah makan dan tidak pernah membuka usaha rumah   makan sebelumnya. Bagi kami akan sangat fatal kalau kita memakai tenaga konsultan model seperti ini. Saran macam bagaimana yang bisa diberikan olehnya.

2. Pengalaman kerja yang cukup
Saran kami yang kedua adalah perhatikan pengalaman kerjanya. Lamanya pengalaman kerja berhubunganan dengan kemahirannya dalam memberikan jasanya. Biasanya semakin lama, semakin bagus kualitasnya. Bahkan ada perusahaan telekomunikasi multi national yang mensyaratkan calon konsultan yang dipakainya harus sudah mempunyai pengalaman kerja yang cukup lama. Mereka tidak mau yang baru dua tiga tahun bekerja menjadi konsultannya. Pengalaman lainnya adalah dari seorang quality manager perusahaan kosmetik global meminta para trainer yang dikirim  dari mitra lembaga konsultannya adalah yang sudah berumur. Karena ketika mereka mendapatkan yang masih muda – muda, hasilnya kurang memuaskan padahal untuk materi training yang sama.

Hal ini ditakutkan jika para konsultannya tidak memiliki pengalaman kerja yang cukup akan hanya mengandalkan informasi dari text book saja. Saya pribadi pernah bertemu dengan seorang kawan yang bekerja di perusahaan konsultan engineering (tentu kami tidak menyebutkan namanya di sini). Baru beberapa hari masuk, dia diminta untuk mengisi training tentang mesin yang dia tidak pernah pegang sebelumnya di hadapan para peserta training dari beberapa perusahaan yang sudah bergelut dengan mesin itu bertahun – tahun lamanya. Dengan hanya modal nekat saja dia mengisi training tersebut. Ketika presentasi dia bisa mengandalkan dari buku – buku yang ada. Pada saat sesi tanya jawab baru dia kena batunya. Ada beberapa pertanyannya yang dia tidak tahu. Untunglah kawan saya ini pandai berbicara. Dengan kemampuannya ini dia bisa membuat setiap pertanyaannya peserta bisa dijawab oleh peserta lainnya. Caranya adalah setiap ada pertanyaannya dikembalikan ke peserta untuk diminta tanggapan balik, dan ketika dirasa benar tanggapannya maka dia menyatkan bahwa itulah jawabannya. Terkesan tidak serius? Tapi itulah yang pernah terjadi.

3. Nama lembaga tidak menjadi jaminan
Saran kami yang ketiga adalah jangan silau dengan nama lembag konsultan yang menawarkan jasanya. Kita perlu memastikan kemampuan dari lembaganya. Lihat profil tenaga konsultannya. Sudah berapa tahun mereka bekerja di bidangnya masing – masing. Proyek konsultasi apa yang pernah mereka pegang. Perusahaan – perusahaan besar mana yang pernah memakai jasanya. Karena ada juga lembaga konsultan yang memperkerjakan tenaga konsultannya yang baru lulus kuliah.

Berdasarkan pengalaman, kami memakai konsultan yang indipenden; yang tidak terikat kepada lembaga konsultannya. Biasanya yang kami pakai adalah para expert (ahli) dari perusahaan multi national yang sudah pensiun atau para regulator yang sudah pensiun (misalnya mantan pejabat balai POM untuk konsultasi GMP kosmetik atau Cara Pembuatan Obat Yang Baik). Selain kemampuan yang mumpuni biaya jasanya bisa lebih hemat. Mengapa bisa lebih hemat? Hal ini disebabkan biasanya para expert atau regulator yang pensiun tidak semata – mata mencari keuntungan saja. Ada semangat untuk berbagai pengalaman kepada yang lain, ada semangat untuk melayani. Dan karena mereka tidak terikat lembaga, maka biaya hanya biasa jasa konsultasi saja, tidak ada biaya – biaya di luar itu.

Demikianlah paparan kami tentang memilih konsultan untuk pertama kalinya. Kami berharap ini bisa sedikit membantu rekan – rekan semua yang masih kebingunan mencari konsultan untuk kepentingan perusahaan. Dengan postingan ini maka mudah – mudahan didapatkan konsultan yang kemampuannya sesuai dengan harapan kita.

sumber foto Alan Cleaver