Menumbuhkan Motivasi Karyawan Agar Bekerja Luar Biasa

Motivasi Karyawan Yang Membuat Mereka Bekerja Melebihi Ekspektasi

Sebagai seorang pengusaha atau superior kita menginginkan para karyawan memiliki motivasi bekerja. Dengan mempunyai motivasi dalam bekerja, mereka akan memaksimalkan seluruh potensi yang ada dalam mencapai sasaran perusahaan. Namun dalam prakteknya sulit sekali menemukan karyawan seperti itu.

Pernah saya meminta seorang karyawan untuk mengerjakan sesuatu yang tidak membutuhkan waktu lama.
“Maaf Pak, sudah jam empat. Saya sudah mau pulang,” jawabnya dengan datar. Setelah itu dia menstater motornya dan terus pulang. Saya hanya mengelus dada. Padahal tugasnya sederhana dan makan waktu sebentar. Hanya gara-gara lebih semenit dua menit dari jam pulang, karyawan tersebut tidak mau mengerjakannya.

Sekarang pertanyannya adalah : bagaimana caranya agar seorang karyawan bekerja dengan baik? Apakah kita iming-imingi gaji atau bonus? Atau dengan ancaman pemecatan? Ternyata dua-duanya bukan jawaban yang tepat.

Seorang karyawan bisa bekerja dengan baik bahkan melebihi ekspetasi kalau karyawan sudah mempunyai motivasi dari dalam dirinya sendiri (inner motivation). Kalau ini sudah tertanam maka mereka akan bekerja melampui main responsibility-nya dan jam kerja formalnya. Batasan kerjanya bukan lagi dari delapan pagi sampai jam lima sore lagi. Tapi sampai dimana pekerjaannya tuntas. Mereka juga bekerja tidak lagi membutuhkan pengawasan ketat dari atasannya.

Saya pernah baca sebuah kisah mengenai Brian Clemons. Dia Seorang ahlis konstruksi teknis di perusahaan konstruksi di Cox Cable, Inc., di New Orleans. Suatu pagi ketika masih berlibur, Clemons kebetulan mampir ke sebuah depot untuk membeli sepotong kayu. Ketika dia menunggu kayu itu dipotong, dia ikut mendengar seseorang yang mengeluhkan perusahaan tempat dia bekerja. Saat orang ini bercerita, delapan atau sembilan pelanggan toko ini berkumpul dan mendengar ceritanya itu.

Sebenarnya bisa saja Brian mengambil sikap tidak peduli, tokh dia sedang berlibur dan orang-orang pun tidak tahu kalau dia karyawan Cox. Tetapi apa yang dilakukan oleh Brian? Dia langsung mendekat dan berkata, “Pak, saya tidak tahan mendengar cerita Bapak kepada orang-orang ini. Saya bekerja pada perusahaan Cox. Bersediakah Bapak memberi saya kesempatan untuk menyelesaikan masalah Bapak? Sungguh, saya jamin kami dapat memperhatikan masalah Bapak.”

Orang-orang itu heran. Brian yang tidak memakai seragam kerjanya, langsung mendatangi telepon umum, mengontak kantor dan meminta kantor mengirimkan tenaga perbaikan ke rumah Depot itu. Kru perbaikan dari perusahaan menemui pelanggan itu. Dan dia menangani masalah itu demi kepuasana pelanggan. Dan Brian terus menindaklanjuti ketika dia kembali bekerja. Dia memastikan apakah pelanggan itu puas dengan hasil pelayanan perusahaannya. Dan dia meminta maaf kepada pelanggan itu atas masalah yang dialaminya.

Seorang karyawan bisa bekerja melebihi ekspektasi ketika mempunyai motivasi yang tinggi. Lebih tinggi dari motivasi terpenuhinya kebutuhan sandang pangan papan. Lebih dari keamanan dan lain sebagainya. Orang bekerja begitu karena mereka mempunyai keinginan menjadi orang besar, menurut Sigmund Freud. Atau mereka mempunyai keinginan menjadi orang penting menurut Jhon Dewey. Jadi kalau orang merasa jadi “orang besar” maka mereka rela melakukan hal-hal tersebut tanpa disuruh dan dihitung itu sebagai lemburan. Jadi kata kuncinya adalah jadikan karyawan itu sebagai orang besar atau orang penting. Maka mereka akan bekerja melebihi main responsibility mereka.

Cara Menumbuhkan Motivasi Karyawan

Terus bagaimana caranya agar mereka bisa memiliki keinginan menjadi orang besar atau orang penting? Dalam buku Pemimpin Dalam Diri Anda, karya Stuart R. Levine dan Micahel A. Crom setidaknya ada tiga cara untuk mewujudkan itu:

1. Karyawan harus dilibatkan pada semua bagian prosesk setiap langkah. Kuncinya adalah tim kerja, bukan hirarki.
Pemimpin-pemimpin sukses saat ini melibatkan karyawan dalam semua aspek proses kerja: desain, manufaktur, inventarisasi dan pemasaran. Pemimpin menciptakan tim. Mereka tidak mengeluarkan perintah dari atas. Pemimpin menyadari bahwa karyawan yang benar-benar melakukan pekerjaannya sebenarnya dapat membuat keputsan sendiri. Jelas karyawan yang dilibatkan dalam pengambilan keputusan memberi respon yang lebih baik daripada mereka yang tidak dilibatkan.

Di tempat saya bekerja ada sebuah contoh nyata. Seorang operator cleaning service yang telah menyadari pentingnya pekerjaannya berusaha mencari cara agar kerjanya lebih baik. Beberapa kali dia mengirimkan sumbang saran (suggestion schema) terkait dengan pekerjaannya. Dia mencari bahan pembersih yang bisa menghapuskan noda yang sukar dibersihkan di dinding. Dia mencari bahan pengganti scrubber yang lebih murah tapi hasilnya tetap sama. Karena kalau beli bahan yang asli harganya mahal sekali. Bayangkan itu dari seorang cleaning service. Bagaimana dengan posisi yang lain.

2. Karyawan harus diperlakukan sebagai individu-individu.

Jangan pernah bosan mengakui bahwa mereka sebagai orang penting dan menghargai mereka. Tempatkan mereka sebagai manusia lebih dahulu, dan kemudian sebagai karyawan.Jangan pernah menganggap karyawan seperti sumber daya (resources) lainnya seperti uang dan bahan baku. Karyawan juga manusia, punya rasa, punya hati. Jangan samakan dengan pisau belati (sambil menyanyi).

“Bersikap ramah. Kenalilah karyawan Anda. Para karyawan harus diperlakukan seperti keluarga,” kata Joyce Harvey presiden Harmon Associates Corporation, cabang perusahaan Fort Howard Corporation. “Anda tidak dapat mengharapkan anak buah Anda melakukan sesuatu jika Anda sendiri tidak mau melakukannya. Anda harus memberi perhatian kepada mereka dengan sungguh-sungguh. Maka Anda pun akan mendapat tingkat penghargaan yang sama kembali.”

Selanjutnya Harvey berkata, “Bekas bos saya biasanya mempunyai tabel di kantornya. Dia biasa membolak-balik it. Dan di dalam tabel itu ada daftar setiap karyawan yang bekerja. Dia mengenal nama-nama karyawannya dan dan dia mengetahui keluarga mereka; dia mengetahui apa yang terjadi pada mereka. Dia akan berjalan keliling pabrik dan menyapa para karyawannya. Dia menunjukkan kepada karyawannya bahwa dia memperhatikan mereka.” Ini mungkin terdengar old school (gaya lama), tetapi saat ini, sikap seperti ini bahkan lebih penting.

3. Pekerjaan yang bagus harus didorong, dihargai dan diberi rangsangan.

Setiap orang pasti memberi respon yang terbaik terhadap harapan-harapan. Jika Anda memperlakukan karyawan seolah-olah mereka mampu dan pintar, mereka akan bekerja dengan sebaik-baiknya.

Cara yang ketiga ini tidak kalah penting dengan yang kedua sebelumnya: Akui suatu pekerjaan yang diselesaikan dengan baik. Jangan diam saja, seperti kebanyakan orang tua yang tidak memberikan pujian atau komentar apa pun kalau anaknya berbuat baik. Banyak orang tua tidak mengucapkan selamat kepada anaknya yang mendapatkan nilai bagus di rapornya. Mereka hanya mengharapkan anaknya baik. Bisa kecewa kan anak-anaknya? Jelas mengecewakan. Masih banyak anak-anak yang menunggu diberi pujian. Jadi jangan lupa: Orang ingin diberi tahu saat mereka melakukan sesuatu yang dengan baik. Berikanlah pujian dengan murah dan sering. Jangan pernah pelit memberikan pujian. Berikan mereka dorongan dan pujian atas pekerjaan mereka. Maka mereka akan bekerja dengan sebaik-baiknya.

So, jadi uang, sandang pangan dan papan memang penting. Tapi menjadi orang besar dan penting itu jauh lebih penting bagi seorang karyawan atau manusia kalau lebih jauh. Ketika motivasi karyawan dalam bekerja sudah tertanam dengan kuat maka tunggulah kedahsyatan-kedahsyatan yang terjadi.

 

Photo by stoater on Unsplash

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *