Monthly Archives: September 2018

Pilih Mana? CPKB atau GMP?

Lipstik. Sumber gambar Rawpixel

Apakah Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB) sama atau berbeda dengan Good Manufacturing Practics (GMP)?

Ada yang bertanya apakakah CPKB dan GMP itu sama atau berbeda? Ada yang menjawab sama dan ada yang menjawab beda. Masing-masing ada alasannya.

Kalau saya menjawab beda dan sama. CPKB berbeda dengan GMP. Sertifikasi CPKB dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan  (BP POM) atau Food and Drug Administration (FDA) masing-masing pemerintah (setidaknya yang saya ketahui untuk negara-negara di ASEAN). Dan GMP yang namanya ISO 22716 : 2007 dikeluarkan oleh badan sertifikasi. ISO 22716 ini dikeluarkan lembaga internasional ISO.

Selain itu juga, yang kami ketahui, sertifikasi CPKB, diakui di kawasan regional ASEAN. Ini sebagai bentuk harmonisasi ASEAN menjadi masyarakat ekonomi ASEAN. Sedangkan sertifikat GMP berlaku global.

CPKB dan GMP dikatakan sana karena mempunyai aspek-aspek yang persyaratan (requirement) yang hamir sama. Di bawah ini adalah daftar aspek – aspek CPKB dan GMP.

Bagaimana Memulai Penerapan Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB)

Kosmetika. Sumber gambar dari Nir N

Tulisan Lengkap Mengenai Penerapan CPKB dan Memperoleh Sertifikat CPKB

Alasan dan Manfaat Menerapkan CPKB

Pada postingan kali ini saya mau membahas penerapan Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB). Ketika saya membuat tulisan ini saya belum mempunyai data terupdate berapa jumlah perusahaan kosmetika baik perusahaan besar maupun usaha kecil menengah  (UKM) yang sudah menerapkan CPKB. Ketika kami menerapkan CPKB beberapa tahun yang lalu masih banyak perusahaan, terutama UKM yang belum menerapkannya. Dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, boleh dibilang Indonesia ketinggalan soal ini. Faktor luas geografis menjadi salah satu kendala utamanya.

Alasan Pelaku Industri Menolak CPKB

Ada beberapa alasan para pelaku industri yang menolak atau belum mau mengimplementasikan CPKB. Alasan tersebut antara lain :

1. Mahal

Mereka berpendapat mengimplementasikan CPKB itu mahal karena membutuhkan biaya. Misalnya biaya untuk memperbaiki fasilitas dan bangunan agar sesuai dengan ketentuan. Lantai harus dicat epoxy atau poliurethane, ruangan produksi powder harus diberi sekat dan lain-lain. Belum biaya untuk pengadaan alat pelindung diri (APD) berupa pakaian bersih, masker penutup kepala, sarung tangan dan sepatu bersih untuk para operator produksi. Itu semua memebutuhkan biaya yang tidak sedikit.